Minggu, 13 November 2016

Back To The Start

Back to the start...

Lantunan lagu Coldplay terus terdengar. Ketukan, melodi, setiap kata yang keluar bagaikan berhenti sejenak di sudut hati. Seakan mengingatkan lagi semua kenangan dan mimpi. Semua harapan bagaikan butiran air hujan yang jatuh ke bumi, terus hilang menjadi uap. Bersatu dengan gumpalan awan, tercampur dengan kenyataan dan melupakan kisahnya sebagai sebuah tetesan air yang sempat terhenti di atas tanah.

Setiap hari gadis muda ini tertawa, menjadikan luka batinnya sebuah canda jenaka. Membuat semua yang dikenalnya mendengar dan turut menjadikannya sebuah lawakan. Hanya agar luka itu, pelan-pelan, akan benar – benar berubah menjadi sebuah candaan, sebuah kisah, dan hanya menjadi cerita yang menjadikan senyuman. Gadis muda ini sudah membalut semua luka dengan tangisan. Gadis muda ini juga sudah menutup setiap bekas luka dengan amarah. Amarah yang entah mengapa bisa ada di sana.

Perlahan memang, tapi dia belajar. Gadis ini belajar menata hati. Menata hati yang kini rapuh, bagaikan memperkuat sol sepatu yang lepas dengan lem alteco. Amarah, kecemburuan, terkadang semua kembali lagi. Setiap untaian kata terburuk yang bisa ia lepaskan, dihempaskannya ke langit, air, tanah, seluruh alam yang mendengar. Namun lagi-lagi, ketika alam berputar dan menenangkannya, ia menjilat segala ucapannya. Ia menata diri, memohon maaf, dan cuma berkata lantang dalam singgasana hatinya, betapa ia menyayangi yang bukan miliknya. Betapa ia mencintai yang bukan untuknya. Betapa ia ingin dicintai oleh sesuatu yang tidak lagi menginginkannya.

Seakan ini kisah bodoh, tapi yang mampu terucap hanya “apa boleh buat”. Lagu Coldplay kembali terputar. “The scientist” menjadi tema hatinya malam ini. Sebuah hati yang telah tertutup dan hanya bisa ber-akting bagaikan sinema. Ber-akting ia masih memiliki sisa cinta yang ingin dilimpahkan bagi serangkaian hati di sekitarnya. Ingin tertawa rasanya melihat bagaimana hati bisa mempermainkan dunianya. Berpura ia menginginkan kisah lain, padahal sesungguhnya untuk membuka mata dan memandang masa kini saja ia menguras air mata, ia menahan napas, dan menguatkan diri agar tidak terjatuh. Terjatuh dalam kegelapan dan kegagalan.

Ini bukan kisah tentang gadis muda yang bodoh. Ini lantunan tentang hati, yang begitu hebatnya mengondisikan dan memposisikan dirinya. Hati yang mensyukuri semua yang terjadi. Hati yang berterima kasih untuk setiap potongan kecil cinta. Hati yang berbahagia untuk setiap kecupan hangat. Hati yang mengenang setiap memori kasih yang tersimpan dan tersisa. Hanya sebatas lantunan hati yang tidak bisa terkuak.


Sang gadis menatap bulan. Bulan yang dinamis, berubah tapi tak mengurangi cahayanya. Setiap tatapan kosong bahkan hingga gerakan tak berarti, semua ia maknai. Ia tahu ia menjadi beban. Maka ia pergi. Namun hatinya tak mampu bergerak. Ia menemukan kenyamanan yang tak seorang pun dapat mengerti, bahkan oleh sang kenyamanan itu sendiri.

Senin, 18 November 2013

Hanya 2%



Wanita itu kembali menatap layar handphone-nya. Tak kuasa menahan senyum, ia menikmati setiap pesona yang ditampilkan layar bercahaya itu. Entah apa yang dipikirannya, tapi ia bahagia. Walau hanya dengan memandangi sebuah gambar semu ciptaan manusia, ia sudah cukup puas.

“Ciyee! Foto dia mulu, Han,” goda Raras, teman sepermainannya.

“Dia...cakep banget!” Hana memuji. Mungkin bukan sekedar pujian, tapi kata hati. Kata hati seorang wanita muda yang jatuh cinta kepada sesosok pria, yang mungkin tidak pernah menyadari keberadaannya.

Mereka kemudian berjalan, melangkah pulang. Hingga di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan seorang lelaki berperawakan tinggi, kurus, dan klimis. Begitu rapi, namun macho di saat bersamaan. Raras menyadari bahwa ini sebuah kesempatan bagi Hana untuk sekali saja menyapa dan menunjukkan eksistensinya.

“Cepat, Han! Kapan lagi?!”

“Gak mau, ah!”

“Hana! Itu dia bentar lagi lewat. Buru sapa!”

Tapi Hana hanya diam, tak berkutik. Dan kesempatan itu hilang, terabaikan begitu saja. Lelaki itu melewati mereka. Melangkah pasti, penuh percaya diri. Parfumnya tercium jelas. Aroma yang khas. Hana tersipu malu, menunduk, dan tersenyum puas. Sebuah kepuasan yang mengecewakan. Cukup sekedar melihat, cukup sekedar bertemu. Tidaklah penting adanya keberadaan nyata antara mereka berdua. Mungkin hal itu sempat terbersit di benak Hana. Mungkin sekali, atau bahkan lima kali.

Perjalanan mereka selanjutnya dipenuhi ceramah panjang dari Raras. Tentang bagaimana sebuah sapaan sangat berarti, hingga penciptaan langkah-langkah pergerakan untuk menumbuhkan rasa di antara mereka. Hana hanya tertawa. Ia bergembira untuk setiap rencana. Ia bersyukur untuk setiap kisah. Tapi di sudut hatinya, dia hanya ingin diam. Memandangi sebuah sosok yang memerangkapnya tiap waktu. Seorang lelaki yang tidak mengizinkan adanya peralihan perhatian. Walau tetap saja, Hana selalu berharap, suatu saat nanti lelaki itu akan sungguh-sungguh hadir dan menghiasi hari-harinya.

***

Bukan mahasiswa jika mereka tidak dipenuhi dengan setumpuk tugas yang tidak jelas kemana ujungnya. Ada baiknya memang, terutama bagi Hana, untuk melupakan sejenak setiap mimpi dan harapan akan sesosok manusia. Seminggu telah berlalu semenjak Hana berbicara dengan lelaki impiannya. Sebuah momen terindah dalam masa perkuliahannya. Sesaat memang, namun senyuman terus bergejolak lebar di bibirnya. Tawa menghiasi harinya. Walau pun telah seminggu.

“Lo tuh mesti nyapa. Ngomong, apa kek. Kalau gini terus ya dia juga gak bakalan notice-lah,” saran mungil dari Dinda membuka sesi pembicaraan ala perempuan mandiri tanpa pasangan.

“Ya kalau gue tahu caranya, kalau gue bisa, gue juga mau. Tapi gak segampang itu, guys,”

“Emangnya mau sampai kapan sih kayak gini?” komentar Silvi.

“Gak apa-apa kok. Mencintai diam-diam ada enaknya kok ....,” jawab Hana.

Ya, ia percaya dalam hatinya bahwa keadaan ini sudah cukup baik. Ia bisa bertahan dan menikmati tiap untaian kisah cinta diam-diam ini. Tapi Hana tak memungkiri, bahwa di balik tembok pertahanannya, ia ingin merasakan kehangatan. Sekedar sapaan, sekedar menyebut namanya. Tetapi wanita ini tidak berani meminta banyak. Tidak ingin kecewa, katanya.

Hari demi hari dilalui tanpa perubahan yang berarti. Hana tetap diam, dan lelaki itu tetap berjalan. Melangkah dengan jaket hitam dan parfum wanginya. Sesekali ia memainkan alat musik kebanggaannya. Menyenandungkan lagu-lagu cinta bersama gitarnya. Setiap fase gerakan yang tertangkap oleh retina Hana bagaikan bunyi-bunyi nafiri. Indah, mengalun, dan penuh kebahagiaan. Walau kebahagiaan itu hanya sepihak dan penuh celah, Hana selalu berhasil menutupinya.

Tak terasa waktu berputar cepat. Hana semakin dekat dengan toga-nya. Berbagai cerita hilir-mudik berganti. Meski demikian, ada satu yang pada akhirnya tidak berubah. Bagaikan sebuah ketetapan, bagaikan sebuah monumen nasional, ada satu kotak kenangan dalam hatinya yang tak berpindah tempat apalagi berganti. Tetap di sana, bagaikan bumbu penyedap bagi kehidupannya.

Lelaki ini berubah. Tubuhnya semakin besar. Musiknya semakin indah. Pakaiannya semakin dewasa. Senyumnya semakin bijaksana. Tapi dia masih sama bagi Hana. Bukan lelaki A atau B, tetapi dia tetaplah dia, pria yang mengisi dunia mimpi dan nyatanya. Bahkan hingga toga kini berada di tangannya. Menanti untuk dikenakan bersama kebaya cantik dan tatanan rambut terindah.

“Han, bentar lagi kita berpisah sama kampus ini. Dan lo masih aja di posisi yang sama. Maju nggak, mundur juga nggak. Yah, maju sih. Lo makin suka sama dia, tergila-gila. Tapi lo gak ngapa-ngapain untuk itu,” ungkap Dinda. Hana terdiam sejenak. Bukan untuk berpikir ‘mengapa’, tapi sekedar mengambil waktu untuk mencari kata yang tepat. Setepat perasaannya yang tak dapat dihindari.

“Susah, Din. Walaupun dia gak dekat sama gue, gak notice gue bahkan, gue gak bisa lupa. Dia memang punya banyak kekurangan. SMS gue juga gak dibalas, haha. Tapi gak segampang itu untuk tiba-tiba melupakan dia. Karena semakin hari, gue semakin menerima dia. Perubahannya cuma menjadi keindahan buat gue,” Hana tersenyum. Dia selalu terlihat setingkat lebih cantik ketika memikirkan lelaki ini. Kebahagiaan terpancar murni dalam senyumannya.

“Ketidaksempurnaannya itu yang lo butuhin buat melengkapi ketidaksempurnaan lo. Walau dia gak sempurna, tapi lo gak mampu kan mencari orang yang se-tidak-sempurna dia?” kata Raras sambil memegang bahu Hana. Hana tersenyum.

Waktu wisuda pun tiba. Toga dimana-mana. Bunga berserakan. Tawa terpecah dan senyum mengudara. Hana di sana, bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Seakan robot otomatis, tiap waktunya ia mencari dan mencari keberadaan sosok lelakinya. Lelaki itu juga berhiaskan toga siang ini. Hana akhirnya menemukan sosoknya. Terpencil di tengah kerumunan lelaki-lelaki berbadan besar yang bersorak girang dan tertawa keras. Hana tersenyum. Hanya begitu saja pun, ia sudah puas.

“Han! Ini momen terakhir. Sana, minta foto sama dia!” Silvi mendorong Hana sambil membawa kamera. Ya, tak apa-lah, ini yang terakhir, pikir Hana.

“Sorry, Mike, boleh foto bareng gak?” pinta Hana. Mungkin nasib, mungkin karena euforia, tanpa tanya Mike mengambil posisi. Kamera dipetik, dan mereka tersenyum puas.

Kebahagiaan berlipat ganda, mungkin. Foto dengan toga bersama lelaki impiannya selama kuliah. Seakan meraih sukses secara bersamaan untuk dua mimpi terbesar. Silvi pun turut tertawa lebar, kesenangan yang meluap.

“Gimana, Han? Udah makin maju hubungannya sekarang kan? Hahaha,”

“Iya ... udah jadi 2 %,” senyum Hana.

***

Sebuah cinta diam-diam. Sebuah kisah masa muda. Sebuah gulali kehidupan. Sebuah cinta yang bertumbuh. Sebuah perjuangan untuk bertahan. Dan sebuah langkah maju, meski hanya 2 %.




Depok, 18 November 2013

Minggu, 17 November 2013

Diam ... Tanpa Rasa

Entah siapa aku ini. Aku hampir buta. Mungkin bukan buta, hanya tak berjiwa. Karakter yang kubangun berpuluh tahun kemudian menemukan titik buntu. Seakan berada di tepi jurang dalam yang tak punya pilihan selain diam, atau tenggelam. Dan aku memilih diam. Diam tanpa rasa.

Ketika melihat burung, aku ingin terbang. Ketika melihat pohon, aku ingin berfotosintesis. Ketika melihat anjing, aku ingin menggong-gong. Ketika melihat sepeda, aku ingin berputar. Aku mengubah topengku sedemikian rupa sehingga seluruh dunia akan mengenalku, entah siapa pun ‘aku’.

Tapi walau demikian, aku memiliki satu titik itu. Satu titik dimana aku tahu apa yang kuinginkan. Hanya saja keinginan itu tidak lebih dari segumpal kehampaan. Realitas sebuah mimpi. Terlalu nyata untuk disebut khayalan, namun secara bersamaan melawan arus putaran bumi. Jadi aku kembali diam, tanpa rasa. Karena aku tahu, apa maknanya memperjuangkan sesuatu yang akan berakhir ketika sang mentari menerangi langit? Apa gunanya menangisi sebuah kisah yang takkan bertahan ketika bintang mulai lenyap? Jadi diamlah, dan tanpa rasa. Lagi.

Terkadang aku ingin membongkar pabrik tubuhku. Mengambil sebuah mesin yang bergerak dinamis yang disebut hati. Me-reset-nya menggunakan program software dan memasukkan data-data baru. File yang berisikan berbagai kebijakan-kebijakan nyata yang akan menjadikanku manusia, lagi. Tapi ternyata manusia tidak segampang mesin-mesin pabrik. Tidak ada tombol delete, apalagi reset. Jadi aku kembali ke tepi saja, dan diam terus hingga tanpa rasa.

Pernahkah kau begitu menyayangi seseorang, hingga menyayanginya pun terasa salah?

Pernahkan kau begitu merindukan seseorang, hingga memandanginya pun menjadi sebuah dosa?

Maka mungkin kau ada di sini. Di tepi jurang. Tak berkutik, bahkan menahan nafas. Karena saat ini kita hanyalah topeng. Hanya imitasi pernak-pernik kehidupan. Dan ketika kita menyadarinya, aku menyadarinya, aku hanyalah boneka tanpa rasa. Karena semua rasa terasa palsu. Sepalsu rasa sayangku. Sepalsu rasa rinduku. Sepalsu situasi yang kukarang demi membantuku bertahan. Bertahan dalam diam ... tanpa rasa.

Kamis, 14 November 2013

Kita Itu Munafik



Kita itu munafik
Kata-kata palsu
Seakan mampu, padahal berusaha menutup pilu

Kita itu munafik
Tidak lebih dari dua onggok daging yang merintih
Meminta waktu melangkah lebih cepat
Supaya rasa ini terpendam mati
Supaya raga ini selamat dari wafat

Kita itu munafik
Berlagak orang beken yang keren pada masanya
Ketika masa lalu masih membayangi
Bagai kabut di ufuk pagi

Matahari menatapku
Terlalu tajam hingga terik
Aku berpaling menjauh
Karena aku tahu aku tidak mungkin bersembunyi

Kata siapa aku hebat?
Kata siapa kamu kuat?
Apa bedanya kita dengan kisah sinetron di malam hari?
Atau dengan drama melankolis di layar tancap?

Bumiku masih tandus
Langitmu kadang berawan

Kita diam, tapi tak sunyi
Kita tak tahu, tapi menghakimi

Orang-orang berebut mengataiku
“Hatimu suka mengada-ada!”
Haruskah ku peduli?

Orang-orang berlomba menyentuhmu
Jadikan pegangan, jadikan sandaran
Beribu wanita pun tak cukup
Haruskah ku peduli?

Halaman terakhir belum tertulis
Tapi aku peduli
Outro lagu kita belum dimainkan
Tapi aku peduli

Karena aku melihat sesuatu
Sesuatu yang kusembunyikan di balik setiap senyumku
Dan kusadari sesuatu
Di balik setiap cuek-jutekmu

Mau dunia berkata apa
Semua sederhana
Kita itu munafik...


Depok, 14 November 2013

Kamis, 24 Oktober 2013

Sebuah Rasa Rindu



Malam itu gelap. Tapi ketika aku melihat ke langit, aku melihatnya. Aku melihat bulan yang bersinar sangat terang. Walau hanya beberapa, tapi aku juga masih bisa menikmati siraman cahaya bintang-bintang. Aku menutup mataku dan tersenyum. Kehangatan. Ya, itu yang kurasakan. Aku rindu. Perasaan rindu ini begitu besarnya hingga tiap sel otakku mampu memberikanku gambaran tentang dirinya. Tentang senyumnya, tentang tawanya, tentang keseriusannya, bahkan hingga momen kekonyolan yang sering ia hadirkan untuk merekahkan senyuman di wajahku.

Aku merindukannya hingga mampu mengingat wangi tubuhnya. Parfum yang sering ia kenakan. Yang selalu ia banggakan karena wanginya yang melekat lama. Shampo yang tidak pernah lupa ia promosikan karena aku pernah memuji harum rambutnya. Aku rindu berada di dekatnya hanya untuk mencium wangi tubuhnya. Menghirup sensasi nyaman. Membuatku selalu ingin bersandar di bahunya.

Aku masih menutup mataku. Membiarkan ragaku bermandikan sinaran malam. Pikiranku mulai bermain. Menghadirkan berbagai kenangan indah. Sedikit terselip memori menyakitkan. Seperti ketika kami harus bersitegang hanya karena sebuah kesalahpahaman kecil. Atau ketika kami bertengkar hebat hingga air mata tertumpah. Ingatanku mulai berputar. Dan perlahan-perlahan, senyumanku hilang. Bukan karena amarah, tapi karena rasa rindu yang menjadi-jadi. Rindu yang berlebihan ini.

Aku membuka mataku dan kembali menatap rembulan. Aku menyebutkan namanya. Membisikkan rasa rinduku, rasa sayangku, rasa cintaku. Kubiarkan sang angin berhembus dan membawa rinduku pergi. Hatiku semakin perih. Air mataku tak terbendung lagi. Ia mulai berlari dan membasahi pipiku. Ia terus mengalir hingga kuterisak. Lidahku mengecap rasa asin yang dihadirkannya. Tapi otakku menerjemahkannya sebagai sebuah kepahitan. Pahit. Sakit. Aku rindu.

Aku menangis. Menangis tak berhenti. Aku mulai mengerang. Tiap tetesan ini tidak mampu menutupi dan membalut pedih yang kurasakan. Aku memeluk diriku sendiri. Berharap kehangatan tubuhku bisa menggantikan hadirnya. Aku butuh dirinya. Aku muak dengan sekedar rasa rindu. Aku ingin dirinya, utuh di depanku. Aku ingin menyentuh pipinya, membelai rambutnya, memeluk tubuhnya. Aku ingin berbincang dengannya seperti masa lalu. Bila dia tak lagi konyol, tak mengapa. Bila ia tak lagi wangi, tak mengapa. Selama itu dirinya dan cintanya, aku akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja.

Tapi semua hanya mimpi. Aku terus menangis, tapi ia tak kunjung hadir. Aku terus merindu, tapi ia tak kunjung membuka mata. Sudah lama, tapi rasa itu serasa baru kemarin. Aku tidak bisa melupakan genggamannya yang terakhir. Aku tidak bisa mengenyahkan senyumannya yang terakhir. Aku tidak mampu menyerahkan angan tentangnya untuk kisah cinta yang lain. Aku meyakinkan diriku bahwa ia takkan kembali. Tapi sebagian diriku masih percaya akan eksistensinya.

Aku masih terisak. Semakin sulit untukku bernafas. Seperti ikan yang dipaksa untuk bernafas tanpa air. Seperti itulah aku harus menjalani hidupku tanpa air kehidupanku. Aku tersenyum, tapi hatiku merintih. Aku tahu setiap doamu untuk kebahagiaanku. Aku sadar setiap mimpimu untuk melihatku berbalut gaun putih dan menjalin kasih abadi dengan yang lain. Tapi hingga detik ini, aku bahkan tidak mampu mempertahankan ketegaranku.

Aku tahu dia tidak meninggalkanku dengan sengaja. Aku tahu dia menangis ketika melihatku menangis. Tapi dia tak merasakan rinduku. Karena dia telah pergi, ke tempat yang tidak bisa kudatangi. Tempat yang belum boleh kukunjungi untuk melepas rinduku. Hanya aku dan rinduku yang tertinggal di dunia fana ini. Berharap seandainya bumi bisa berputar ulang dan menjanjikan kisah yang berbeda untukku dan dirinya.

Hatiku semakin tenang. Tapi air mataku masih mengalir. Kubiarkan diriku terdiam. Dan kulepaskan rinduku berteriak. Teriak sekencang-kencangnya hingga melampaui ruang dan waktu. Bahkan kalau bisa hingga terdengar di sisinya. Dan menyadarkannya bahwa aku masih merindukannya.

Aku menyeka air mataku. Menyudahi sikap kekanakanku yang tak kunjung merelakan dirinya. Aku kembali menatap rembulan dan bintang-bintang. Selamat jalan, cahayaku. Aku akan terus berusaha melangkah, bukan untuk melupakanmu tapi untuk kembali hidup. Karena selamanya, untuk selamanya, aku akan merindukanmu.

Sebuah kisah kecil mengenai kerinduan akan cinta yang tidak akan kembali. Kerinduan untuk mereka yang telah pergi selamanya.

Depok, 24 Oktober 2013

Senin, 21 Oktober 2013

Dunia Jendela (pt. 1)



Aku terduduk di kursi kesayanganku. Sebuah kursi goyang kecil yang kuletakkan tepat di samping jendela kamarku. Aku senang berada di sana. Memandangi keindahan liku kehidupan yang terus berputar di bawah apartemenku. Berpuluh warna dunia yang berbeda terlintas dan terurai di sana. Seakan sedang menonton film blockbuster, aku senang memperhatikan setiap gerak yang tercipta. Bahkan sering kali aku bermain tebak-tebakan dengan Anne, boneka cantik yang selalu setia menemaniku.

Aku akan menebak kira-kira apa yang wanita berbaju merah itu katakan kepada pria yang terlihat berumur jauh di atasnya. “Mungkin mereka rekan kerja, Anne. Ah! Kenapa tante itu menampar om tua? Mungkin oom itu kerjanya jelek, ya, Anne,” kataku pada boneka cantik berwajah layaknya putri Belanda berambut pirang keriting yang kudandani dengan gaun ungu kembang dan mahkota mutiara.
Pernah juga aku melihat dua orang pria berjalan bersama. Mungkin mereka sahabat, simpulku. Sayangnya tebakanku meleset. Ketika mereka berada di bawah terpal biru tempat parkiran motor yang cenderung sepi di malam hari, aku melihat mereka bergandengan tangan bahkan berpelukan. Seketika aku menutup mataku dan Anne. “Kita nggak boleh lihat ini, Anne!” ujarku setengah berbisik. Seakan pria-pria kekar itu dapat mendengarku.

Jendelaku adalah dunia milikku seorang. Banyak orang mencoba memasuki dan mengintai duniaku, tapi mereka tak mampu. Tentu saja, karena jendela ini punya kode sandi. Hanya aku dan Anne yang mampu memasuki dunia gemerlapan ini. Dunia jendela, begitu aku menyebutnya.

***

Aku tidak punya teman. Aku tidak pernah bersekolah. Kata Mama, aku tidak boleh pergi keluar karena udara di luar itu jahat. Mereka senang menggerogoti paru-paruku dan menyumbat pernapasanku. Waktu kecil, aku pernah nakal dan bermain keluar. Alhasil aku tidak bisa bernapas. Kata dokter, nama penyakitnya asma. Aku mencari tahu tentang asma, dan katanya aku masih bisa bermain di luar asalkan aku membawa obat. Aku merengek pada Mama agar dibolehkan bermain keluar. Tapi kemudian Mama bilang, kuman di luar sana juga sangat banyak. Aku bisa tertular bahkan meninggal kesakitan. Aku benci sakit! Aku gak mau sakit! Jadi aku memilih diam di apartemen ini. Tempat aku, Mama, dan Bibi Sutri mengadu nasib.

Mama orang yang sibuk. Selalu bekerja ke luar kota bahkan ke luar negri. Karena rindu, waktu kecil aku suka rewel. Teriak-teriak minta ini-itu sampai merepotkan Bibi Sutri. Kalau sudah kesal, Bibi Sutri selalu bilang kalau sebentar lagi aku akan mati. Katanya kalau aku terus rewel dan nakal, aku akan masuk neraka. Bahkan adanya suatu konsep tentang neraka itupun kuketahui dari Bi Sutri. Neraka itu panas dan berisi anak-anak nakal. Aku juga gak mau masuk neraka! Karena itu aku memilih diam, dan selalu menuruti kata Bi Sutri.

Anne hadir di hidupku ketika aku berumur 10 tahun. Rasanya senang bukan main! Akhirnya aku punya teman! Aku menghabiskan seluruh waktuku bersama Anne. Tidur, makan, mandi, bahkan ketika belajar bersama guru privat. Semuanya aku lakukan bersama Anne. 4 tahun sudah kulalui bersama Anne. Aku mulai bosan. Bukan dengan Anne, tapi dengan hidupku. Aku pernah menonton film tentang seseorang yang kehilangan segalanya dan memilih untuk bunuh diri. Aku baru tahu bahwa ternyata manusia bisa membunuh dirinya sendiri. Aku terpana melihat kehebatan manusia. Mereka bahkan bisa bunuh diri!

Aku pernah bertanya kepada Mama tentang bunuh diri. Aku ingin tahu kenapa manusia ingin bunuh diri kalau pada akhirnya akan mati juga. Tapi Mama hanya marah-marah dan berkata kalau aku mulai nakal dan melarangku menonton. Aku tidak boleh lagi menonton apapun kecuali DVD yang Mama belikan. Aku semakin bosan. Rasanya ada yang kurang. Hampa mulai menghampiri tiap detik kehidupanku. Dan ketika itulah, tidak sengaja aku mendapat suatu hal yang baru.

Suatu sore, ketika langit memancarkan terang jingganya, aku seakan tertarik oleh magnet besar bernama kagum. Aku menarik kursi kecil dan duduk menikmati setiap momennya bersama Anne. Indah sekali melihat cahaya jingga itu perlahan berubah menjadi kegelapan. Aku tidak mempercayai keberadaan bintang seperti yang tertulis di buku-buku bergambar. Langit di kotaku tidak punya bintang. Kata Bibi Sutri, karena orang di sini jahat-jahat, sehingga bintang kabur dan tidak mau kembali lagi.

Karena itu ketika malam menghampiri, aku menyudahi decak kagumku dan bersiap pergi. Ketika itulah, dunia baru itu datang. Awalnya karena penasaran. Penasaran apa yang segerombolan orang berseragam putih abu-abu itu lakukan di bawah sana. Aku mulai mengamati dan kian menikmati setiap perubahan yang terjadi. “Anne, lihat deh! Mereka lucu ya! Ternyata nonton di sini seru juga!” kataku dengan semangat sambil memperlihatkan Anne dunia baruku. Dunia jendela, milik kami berdua.