Back to the start...
Lantunan lagu
Coldplay terus terdengar. Ketukan, melodi, setiap kata yang keluar bagaikan
berhenti sejenak di sudut hati. Seakan mengingatkan lagi semua kenangan dan
mimpi. Semua harapan bagaikan butiran air hujan yang jatuh ke bumi, terus
hilang menjadi uap. Bersatu dengan gumpalan awan, tercampur dengan kenyataan
dan melupakan kisahnya sebagai sebuah tetesan air yang sempat terhenti di atas
tanah.
Setiap hari gadis
muda ini tertawa, menjadikan luka batinnya sebuah canda jenaka. Membuat semua
yang dikenalnya mendengar dan turut menjadikannya sebuah lawakan. Hanya agar
luka itu, pelan-pelan, akan benar – benar berubah menjadi sebuah candaan,
sebuah kisah, dan hanya menjadi cerita yang menjadikan senyuman. Gadis muda ini
sudah membalut semua luka dengan tangisan. Gadis muda ini juga sudah menutup
setiap bekas luka dengan amarah. Amarah yang entah mengapa bisa ada di sana.
Perlahan memang,
tapi dia belajar. Gadis ini belajar menata hati. Menata hati yang kini rapuh,
bagaikan memperkuat sol sepatu yang lepas dengan lem alteco. Amarah,
kecemburuan, terkadang semua kembali lagi. Setiap untaian kata terburuk yang
bisa ia lepaskan, dihempaskannya ke langit, air, tanah, seluruh alam yang
mendengar. Namun lagi-lagi, ketika alam berputar dan menenangkannya, ia
menjilat segala ucapannya. Ia menata diri, memohon maaf, dan cuma berkata
lantang dalam singgasana hatinya, betapa ia menyayangi yang bukan miliknya.
Betapa ia mencintai yang bukan untuknya. Betapa ia ingin dicintai oleh sesuatu
yang tidak lagi menginginkannya.
Seakan ini kisah
bodoh, tapi yang mampu terucap hanya “apa boleh buat”. Lagu Coldplay kembali
terputar. “The scientist” menjadi
tema hatinya malam ini. Sebuah hati yang telah tertutup dan hanya bisa
ber-akting bagaikan sinema. Ber-akting ia masih memiliki sisa cinta yang ingin
dilimpahkan bagi serangkaian hati di sekitarnya. Ingin tertawa rasanya melihat
bagaimana hati bisa mempermainkan dunianya. Berpura ia menginginkan kisah lain,
padahal sesungguhnya untuk membuka mata dan memandang masa kini saja ia
menguras air mata, ia menahan napas, dan menguatkan diri agar tidak terjatuh.
Terjatuh dalam kegelapan dan kegagalan.
Ini bukan kisah
tentang gadis muda yang bodoh. Ini lantunan tentang hati, yang begitu hebatnya
mengondisikan dan memposisikan dirinya. Hati yang mensyukuri semua yang
terjadi. Hati yang berterima kasih untuk setiap potongan kecil cinta. Hati yang
berbahagia untuk setiap kecupan hangat. Hati yang mengenang setiap memori kasih
yang tersimpan dan tersisa. Hanya sebatas lantunan hati yang tidak bisa
terkuak.
Sang gadis
menatap bulan. Bulan yang dinamis, berubah tapi tak mengurangi cahayanya. Setiap tatapan kosong bahkan
hingga gerakan tak berarti, semua ia maknai. Ia tahu ia menjadi beban. Maka ia
pergi. Namun hatinya tak mampu bergerak. Ia menemukan kenyamanan yang tak
seorang pun dapat mengerti, bahkan oleh sang kenyamanan itu sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar