Kamis, 14 November 2013

Kita Itu Munafik



Kita itu munafik
Kata-kata palsu
Seakan mampu, padahal berusaha menutup pilu

Kita itu munafik
Tidak lebih dari dua onggok daging yang merintih
Meminta waktu melangkah lebih cepat
Supaya rasa ini terpendam mati
Supaya raga ini selamat dari wafat

Kita itu munafik
Berlagak orang beken yang keren pada masanya
Ketika masa lalu masih membayangi
Bagai kabut di ufuk pagi

Matahari menatapku
Terlalu tajam hingga terik
Aku berpaling menjauh
Karena aku tahu aku tidak mungkin bersembunyi

Kata siapa aku hebat?
Kata siapa kamu kuat?
Apa bedanya kita dengan kisah sinetron di malam hari?
Atau dengan drama melankolis di layar tancap?

Bumiku masih tandus
Langitmu kadang berawan

Kita diam, tapi tak sunyi
Kita tak tahu, tapi menghakimi

Orang-orang berebut mengataiku
“Hatimu suka mengada-ada!”
Haruskah ku peduli?

Orang-orang berlomba menyentuhmu
Jadikan pegangan, jadikan sandaran
Beribu wanita pun tak cukup
Haruskah ku peduli?

Halaman terakhir belum tertulis
Tapi aku peduli
Outro lagu kita belum dimainkan
Tapi aku peduli

Karena aku melihat sesuatu
Sesuatu yang kusembunyikan di balik setiap senyumku
Dan kusadari sesuatu
Di balik setiap cuek-jutekmu

Mau dunia berkata apa
Semua sederhana
Kita itu munafik...


Depok, 14 November 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar