Kita itu munafik
Kata-kata palsu
Seakan mampu, padahal berusaha
menutup pilu
Kita itu munafik
Tidak lebih dari dua onggok daging
yang merintih
Meminta waktu melangkah lebih cepat
Supaya rasa ini terpendam mati
Supaya raga ini selamat dari wafat
Kita itu munafik
Berlagak orang beken yang keren
pada masanya
Ketika masa lalu masih membayangi
Bagai kabut di ufuk pagi
Matahari menatapku
Terlalu tajam hingga terik
Aku berpaling menjauh
Karena aku tahu aku tidak mungkin
bersembunyi
Kata siapa aku hebat?
Kata siapa kamu kuat?
Apa bedanya kita dengan kisah
sinetron di malam hari?
Atau dengan drama melankolis di
layar tancap?
Bumiku masih tandus
Langitmu kadang berawan
Kita diam, tapi tak sunyi
Kita tak tahu, tapi menghakimi
Orang-orang berebut mengataiku
“Hatimu suka mengada-ada!”
Haruskah ku peduli?
Orang-orang berlomba menyentuhmu
Jadikan pegangan, jadikan sandaran
Beribu wanita pun tak cukup
Haruskah ku peduli?
Halaman terakhir belum tertulis
Tapi aku peduli
Outro lagu kita belum
dimainkan
Tapi aku peduli
Karena aku melihat sesuatu
Sesuatu yang kusembunyikan di balik
setiap senyumku
Dan kusadari sesuatu
Di balik setiap cuek-jutekmu
Mau dunia berkata apa
Semua sederhana
Kita itu munafik...
Depok, 14 November 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar