Senin, 21 Oktober 2013

Dunia Jendela (pt. 1)



Aku terduduk di kursi kesayanganku. Sebuah kursi goyang kecil yang kuletakkan tepat di samping jendela kamarku. Aku senang berada di sana. Memandangi keindahan liku kehidupan yang terus berputar di bawah apartemenku. Berpuluh warna dunia yang berbeda terlintas dan terurai di sana. Seakan sedang menonton film blockbuster, aku senang memperhatikan setiap gerak yang tercipta. Bahkan sering kali aku bermain tebak-tebakan dengan Anne, boneka cantik yang selalu setia menemaniku.

Aku akan menebak kira-kira apa yang wanita berbaju merah itu katakan kepada pria yang terlihat berumur jauh di atasnya. “Mungkin mereka rekan kerja, Anne. Ah! Kenapa tante itu menampar om tua? Mungkin oom itu kerjanya jelek, ya, Anne,” kataku pada boneka cantik berwajah layaknya putri Belanda berambut pirang keriting yang kudandani dengan gaun ungu kembang dan mahkota mutiara.
Pernah juga aku melihat dua orang pria berjalan bersama. Mungkin mereka sahabat, simpulku. Sayangnya tebakanku meleset. Ketika mereka berada di bawah terpal biru tempat parkiran motor yang cenderung sepi di malam hari, aku melihat mereka bergandengan tangan bahkan berpelukan. Seketika aku menutup mataku dan Anne. “Kita nggak boleh lihat ini, Anne!” ujarku setengah berbisik. Seakan pria-pria kekar itu dapat mendengarku.

Jendelaku adalah dunia milikku seorang. Banyak orang mencoba memasuki dan mengintai duniaku, tapi mereka tak mampu. Tentu saja, karena jendela ini punya kode sandi. Hanya aku dan Anne yang mampu memasuki dunia gemerlapan ini. Dunia jendela, begitu aku menyebutnya.

***

Aku tidak punya teman. Aku tidak pernah bersekolah. Kata Mama, aku tidak boleh pergi keluar karena udara di luar itu jahat. Mereka senang menggerogoti paru-paruku dan menyumbat pernapasanku. Waktu kecil, aku pernah nakal dan bermain keluar. Alhasil aku tidak bisa bernapas. Kata dokter, nama penyakitnya asma. Aku mencari tahu tentang asma, dan katanya aku masih bisa bermain di luar asalkan aku membawa obat. Aku merengek pada Mama agar dibolehkan bermain keluar. Tapi kemudian Mama bilang, kuman di luar sana juga sangat banyak. Aku bisa tertular bahkan meninggal kesakitan. Aku benci sakit! Aku gak mau sakit! Jadi aku memilih diam di apartemen ini. Tempat aku, Mama, dan Bibi Sutri mengadu nasib.

Mama orang yang sibuk. Selalu bekerja ke luar kota bahkan ke luar negri. Karena rindu, waktu kecil aku suka rewel. Teriak-teriak minta ini-itu sampai merepotkan Bibi Sutri. Kalau sudah kesal, Bibi Sutri selalu bilang kalau sebentar lagi aku akan mati. Katanya kalau aku terus rewel dan nakal, aku akan masuk neraka. Bahkan adanya suatu konsep tentang neraka itupun kuketahui dari Bi Sutri. Neraka itu panas dan berisi anak-anak nakal. Aku juga gak mau masuk neraka! Karena itu aku memilih diam, dan selalu menuruti kata Bi Sutri.

Anne hadir di hidupku ketika aku berumur 10 tahun. Rasanya senang bukan main! Akhirnya aku punya teman! Aku menghabiskan seluruh waktuku bersama Anne. Tidur, makan, mandi, bahkan ketika belajar bersama guru privat. Semuanya aku lakukan bersama Anne. 4 tahun sudah kulalui bersama Anne. Aku mulai bosan. Bukan dengan Anne, tapi dengan hidupku. Aku pernah menonton film tentang seseorang yang kehilangan segalanya dan memilih untuk bunuh diri. Aku baru tahu bahwa ternyata manusia bisa membunuh dirinya sendiri. Aku terpana melihat kehebatan manusia. Mereka bahkan bisa bunuh diri!

Aku pernah bertanya kepada Mama tentang bunuh diri. Aku ingin tahu kenapa manusia ingin bunuh diri kalau pada akhirnya akan mati juga. Tapi Mama hanya marah-marah dan berkata kalau aku mulai nakal dan melarangku menonton. Aku tidak boleh lagi menonton apapun kecuali DVD yang Mama belikan. Aku semakin bosan. Rasanya ada yang kurang. Hampa mulai menghampiri tiap detik kehidupanku. Dan ketika itulah, tidak sengaja aku mendapat suatu hal yang baru.

Suatu sore, ketika langit memancarkan terang jingganya, aku seakan tertarik oleh magnet besar bernama kagum. Aku menarik kursi kecil dan duduk menikmati setiap momennya bersama Anne. Indah sekali melihat cahaya jingga itu perlahan berubah menjadi kegelapan. Aku tidak mempercayai keberadaan bintang seperti yang tertulis di buku-buku bergambar. Langit di kotaku tidak punya bintang. Kata Bibi Sutri, karena orang di sini jahat-jahat, sehingga bintang kabur dan tidak mau kembali lagi.

Karena itu ketika malam menghampiri, aku menyudahi decak kagumku dan bersiap pergi. Ketika itulah, dunia baru itu datang. Awalnya karena penasaran. Penasaran apa yang segerombolan orang berseragam putih abu-abu itu lakukan di bawah sana. Aku mulai mengamati dan kian menikmati setiap perubahan yang terjadi. “Anne, lihat deh! Mereka lucu ya! Ternyata nonton di sini seru juga!” kataku dengan semangat sambil memperlihatkan Anne dunia baruku. Dunia jendela, milik kami berdua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar