Entah siapa aku ini. Aku hampir buta. Mungkin bukan buta, hanya tak berjiwa. Karakter yang kubangun berpuluh tahun kemudian menemukan titik buntu. Seakan berada di tepi jurang dalam yang tak punya pilihan selain diam, atau tenggelam. Dan aku memilih diam. Diam tanpa rasa.
Ketika melihat burung, aku ingin terbang. Ketika melihat pohon, aku ingin berfotosintesis. Ketika melihat anjing, aku ingin menggong-gong. Ketika melihat sepeda, aku ingin berputar. Aku mengubah topengku sedemikian rupa sehingga seluruh dunia akan mengenalku, entah siapa pun ‘aku’.
Tapi walau demikian, aku memiliki satu titik itu. Satu titik dimana aku tahu apa yang kuinginkan. Hanya saja keinginan itu tidak lebih dari segumpal kehampaan. Realitas sebuah mimpi. Terlalu nyata untuk disebut khayalan, namun secara bersamaan melawan arus putaran bumi. Jadi aku kembali diam, tanpa rasa. Karena aku tahu, apa maknanya memperjuangkan sesuatu yang akan berakhir ketika sang mentari menerangi langit? Apa gunanya menangisi sebuah kisah yang takkan bertahan ketika bintang mulai lenyap? Jadi diamlah, dan tanpa rasa. Lagi.
Terkadang aku ingin membongkar pabrik tubuhku. Mengambil sebuah mesin yang bergerak dinamis yang disebut hati. Me-reset-nya menggunakan program software dan memasukkan data-data baru. File yang berisikan berbagai kebijakan-kebijakan nyata yang akan menjadikanku manusia, lagi. Tapi ternyata manusia tidak segampang mesin-mesin pabrik. Tidak ada tombol delete, apalagi reset. Jadi aku kembali ke tepi saja, dan diam terus hingga tanpa rasa.
Pernahkah kau begitu menyayangi seseorang, hingga menyayanginya pun terasa salah?
Pernahkan kau begitu merindukan seseorang, hingga memandanginya pun menjadi sebuah dosa?
Maka mungkin kau ada di sini. Di tepi jurang. Tak berkutik, bahkan menahan nafas. Karena saat ini kita hanyalah topeng. Hanya imitasi pernak-pernik kehidupan. Dan ketika kita menyadarinya, aku menyadarinya, aku hanyalah boneka tanpa rasa. Karena semua rasa terasa palsu. Sepalsu rasa sayangku. Sepalsu rasa rinduku. Sepalsu situasi yang kukarang demi membantuku bertahan. Bertahan dalam diam ... tanpa rasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar