Malam itu gelap. Tapi
ketika aku melihat ke langit, aku melihatnya. Aku melihat bulan yang bersinar
sangat terang. Walau hanya beberapa, tapi aku juga masih bisa menikmati siraman
cahaya bintang-bintang. Aku menutup mataku dan tersenyum. Kehangatan. Ya, itu yang
kurasakan. Aku rindu. Perasaan rindu ini begitu besarnya hingga tiap sel otakku
mampu memberikanku gambaran tentang dirinya. Tentang senyumnya, tentang
tawanya, tentang keseriusannya, bahkan hingga momen kekonyolan yang sering ia
hadirkan untuk merekahkan senyuman di wajahku.
Aku merindukannya hingga
mampu mengingat wangi tubuhnya. Parfum yang sering ia kenakan. Yang selalu ia
banggakan karena wanginya yang melekat lama. Shampo yang tidak pernah lupa ia
promosikan karena aku pernah memuji harum rambutnya. Aku rindu berada di
dekatnya hanya untuk mencium wangi tubuhnya. Menghirup sensasi nyaman.
Membuatku selalu ingin bersandar di bahunya.
Aku masih menutup mataku.
Membiarkan ragaku bermandikan sinaran malam. Pikiranku mulai bermain.
Menghadirkan berbagai kenangan indah. Sedikit terselip memori menyakitkan.
Seperti ketika kami harus bersitegang hanya karena sebuah kesalahpahaman kecil.
Atau ketika kami bertengkar hebat hingga air mata tertumpah. Ingatanku mulai
berputar. Dan perlahan-perlahan, senyumanku hilang. Bukan karena amarah, tapi
karena rasa rindu yang menjadi-jadi. Rindu yang berlebihan ini.
Aku membuka mataku dan
kembali menatap rembulan. Aku menyebutkan namanya. Membisikkan rasa rinduku,
rasa sayangku, rasa cintaku. Kubiarkan sang angin berhembus dan membawa rinduku
pergi. Hatiku semakin perih. Air mataku tak terbendung lagi. Ia mulai berlari
dan membasahi pipiku. Ia terus mengalir hingga kuterisak. Lidahku mengecap rasa
asin yang dihadirkannya. Tapi otakku menerjemahkannya sebagai sebuah kepahitan.
Pahit. Sakit. Aku rindu.
Aku menangis. Menangis
tak berhenti. Aku mulai mengerang. Tiap tetesan ini tidak mampu menutupi dan
membalut pedih yang kurasakan. Aku memeluk diriku sendiri. Berharap kehangatan
tubuhku bisa menggantikan hadirnya. Aku butuh dirinya. Aku muak dengan sekedar
rasa rindu. Aku ingin dirinya, utuh di depanku. Aku ingin menyentuh pipinya,
membelai rambutnya, memeluk tubuhnya. Aku ingin berbincang dengannya seperti
masa lalu. Bila dia tak lagi konyol, tak mengapa. Bila ia tak lagi wangi, tak
mengapa. Selama itu dirinya dan cintanya, aku akan baik-baik saja. Semua akan
baik-baik saja.
Tapi semua hanya mimpi.
Aku terus menangis, tapi ia tak kunjung hadir. Aku terus merindu, tapi ia tak
kunjung membuka mata. Sudah lama, tapi rasa itu serasa baru kemarin. Aku tidak
bisa melupakan genggamannya yang terakhir. Aku tidak bisa mengenyahkan
senyumannya yang terakhir. Aku tidak mampu menyerahkan angan tentangnya untuk
kisah cinta yang lain. Aku meyakinkan diriku bahwa ia takkan kembali. Tapi
sebagian diriku masih percaya akan eksistensinya.
Aku masih terisak.
Semakin sulit untukku bernafas. Seperti ikan yang dipaksa untuk bernafas tanpa
air. Seperti itulah aku harus menjalani hidupku tanpa air kehidupanku. Aku
tersenyum, tapi hatiku merintih. Aku tahu setiap doamu untuk kebahagiaanku. Aku
sadar setiap mimpimu untuk melihatku berbalut gaun putih dan menjalin kasih abadi dengan yang lain.
Tapi hingga detik ini, aku bahkan tidak mampu mempertahankan ketegaranku.
Aku tahu dia tidak
meninggalkanku dengan sengaja. Aku tahu dia menangis ketika melihatku menangis.
Tapi dia tak merasakan rinduku. Karena dia telah pergi, ke tempat yang tidak
bisa kudatangi. Tempat yang belum boleh kukunjungi untuk melepas rinduku. Hanya
aku dan rinduku yang tertinggal di dunia fana ini. Berharap seandainya bumi
bisa berputar ulang dan menjanjikan kisah yang berbeda untukku dan dirinya.
Hatiku semakin tenang.
Tapi air mataku masih mengalir. Kubiarkan diriku terdiam. Dan kulepaskan rinduku
berteriak. Teriak sekencang-kencangnya hingga melampaui ruang dan waktu. Bahkan
kalau bisa hingga terdengar di sisinya. Dan menyadarkannya bahwa aku masih
merindukannya.
Aku menyeka air mataku. Menyudahi sikap kekanakanku yang tak kunjung merelakan dirinya. Aku kembali menatap rembulan dan bintang-bintang. Selamat jalan, cahayaku. Aku akan terus berusaha melangkah, bukan untuk
melupakanmu tapi untuk kembali hidup. Karena selamanya, untuk selamanya, aku
akan merindukanmu.
Sebuah kisah kecil mengenai kerinduan akan cinta yang tidak akan kembali. Kerinduan untuk mereka yang telah pergi selamanya.
Depok, 24 Oktober 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar