Minggu, 13 November 2016

Back To The Start

Back to the start...

Lantunan lagu Coldplay terus terdengar. Ketukan, melodi, setiap kata yang keluar bagaikan berhenti sejenak di sudut hati. Seakan mengingatkan lagi semua kenangan dan mimpi. Semua harapan bagaikan butiran air hujan yang jatuh ke bumi, terus hilang menjadi uap. Bersatu dengan gumpalan awan, tercampur dengan kenyataan dan melupakan kisahnya sebagai sebuah tetesan air yang sempat terhenti di atas tanah.

Setiap hari gadis muda ini tertawa, menjadikan luka batinnya sebuah canda jenaka. Membuat semua yang dikenalnya mendengar dan turut menjadikannya sebuah lawakan. Hanya agar luka itu, pelan-pelan, akan benar – benar berubah menjadi sebuah candaan, sebuah kisah, dan hanya menjadi cerita yang menjadikan senyuman. Gadis muda ini sudah membalut semua luka dengan tangisan. Gadis muda ini juga sudah menutup setiap bekas luka dengan amarah. Amarah yang entah mengapa bisa ada di sana.

Perlahan memang, tapi dia belajar. Gadis ini belajar menata hati. Menata hati yang kini rapuh, bagaikan memperkuat sol sepatu yang lepas dengan lem alteco. Amarah, kecemburuan, terkadang semua kembali lagi. Setiap untaian kata terburuk yang bisa ia lepaskan, dihempaskannya ke langit, air, tanah, seluruh alam yang mendengar. Namun lagi-lagi, ketika alam berputar dan menenangkannya, ia menjilat segala ucapannya. Ia menata diri, memohon maaf, dan cuma berkata lantang dalam singgasana hatinya, betapa ia menyayangi yang bukan miliknya. Betapa ia mencintai yang bukan untuknya. Betapa ia ingin dicintai oleh sesuatu yang tidak lagi menginginkannya.

Seakan ini kisah bodoh, tapi yang mampu terucap hanya “apa boleh buat”. Lagu Coldplay kembali terputar. “The scientist” menjadi tema hatinya malam ini. Sebuah hati yang telah tertutup dan hanya bisa ber-akting bagaikan sinema. Ber-akting ia masih memiliki sisa cinta yang ingin dilimpahkan bagi serangkaian hati di sekitarnya. Ingin tertawa rasanya melihat bagaimana hati bisa mempermainkan dunianya. Berpura ia menginginkan kisah lain, padahal sesungguhnya untuk membuka mata dan memandang masa kini saja ia menguras air mata, ia menahan napas, dan menguatkan diri agar tidak terjatuh. Terjatuh dalam kegelapan dan kegagalan.

Ini bukan kisah tentang gadis muda yang bodoh. Ini lantunan tentang hati, yang begitu hebatnya mengondisikan dan memposisikan dirinya. Hati yang mensyukuri semua yang terjadi. Hati yang berterima kasih untuk setiap potongan kecil cinta. Hati yang berbahagia untuk setiap kecupan hangat. Hati yang mengenang setiap memori kasih yang tersimpan dan tersisa. Hanya sebatas lantunan hati yang tidak bisa terkuak.


Sang gadis menatap bulan. Bulan yang dinamis, berubah tapi tak mengurangi cahayanya. Setiap tatapan kosong bahkan hingga gerakan tak berarti, semua ia maknai. Ia tahu ia menjadi beban. Maka ia pergi. Namun hatinya tak mampu bergerak. Ia menemukan kenyamanan yang tak seorang pun dapat mengerti, bahkan oleh sang kenyamanan itu sendiri.