Kamis, 24 Oktober 2013

Sebuah Rasa Rindu



Malam itu gelap. Tapi ketika aku melihat ke langit, aku melihatnya. Aku melihat bulan yang bersinar sangat terang. Walau hanya beberapa, tapi aku juga masih bisa menikmati siraman cahaya bintang-bintang. Aku menutup mataku dan tersenyum. Kehangatan. Ya, itu yang kurasakan. Aku rindu. Perasaan rindu ini begitu besarnya hingga tiap sel otakku mampu memberikanku gambaran tentang dirinya. Tentang senyumnya, tentang tawanya, tentang keseriusannya, bahkan hingga momen kekonyolan yang sering ia hadirkan untuk merekahkan senyuman di wajahku.

Aku merindukannya hingga mampu mengingat wangi tubuhnya. Parfum yang sering ia kenakan. Yang selalu ia banggakan karena wanginya yang melekat lama. Shampo yang tidak pernah lupa ia promosikan karena aku pernah memuji harum rambutnya. Aku rindu berada di dekatnya hanya untuk mencium wangi tubuhnya. Menghirup sensasi nyaman. Membuatku selalu ingin bersandar di bahunya.

Aku masih menutup mataku. Membiarkan ragaku bermandikan sinaran malam. Pikiranku mulai bermain. Menghadirkan berbagai kenangan indah. Sedikit terselip memori menyakitkan. Seperti ketika kami harus bersitegang hanya karena sebuah kesalahpahaman kecil. Atau ketika kami bertengkar hebat hingga air mata tertumpah. Ingatanku mulai berputar. Dan perlahan-perlahan, senyumanku hilang. Bukan karena amarah, tapi karena rasa rindu yang menjadi-jadi. Rindu yang berlebihan ini.

Aku membuka mataku dan kembali menatap rembulan. Aku menyebutkan namanya. Membisikkan rasa rinduku, rasa sayangku, rasa cintaku. Kubiarkan sang angin berhembus dan membawa rinduku pergi. Hatiku semakin perih. Air mataku tak terbendung lagi. Ia mulai berlari dan membasahi pipiku. Ia terus mengalir hingga kuterisak. Lidahku mengecap rasa asin yang dihadirkannya. Tapi otakku menerjemahkannya sebagai sebuah kepahitan. Pahit. Sakit. Aku rindu.

Aku menangis. Menangis tak berhenti. Aku mulai mengerang. Tiap tetesan ini tidak mampu menutupi dan membalut pedih yang kurasakan. Aku memeluk diriku sendiri. Berharap kehangatan tubuhku bisa menggantikan hadirnya. Aku butuh dirinya. Aku muak dengan sekedar rasa rindu. Aku ingin dirinya, utuh di depanku. Aku ingin menyentuh pipinya, membelai rambutnya, memeluk tubuhnya. Aku ingin berbincang dengannya seperti masa lalu. Bila dia tak lagi konyol, tak mengapa. Bila ia tak lagi wangi, tak mengapa. Selama itu dirinya dan cintanya, aku akan baik-baik saja. Semua akan baik-baik saja.

Tapi semua hanya mimpi. Aku terus menangis, tapi ia tak kunjung hadir. Aku terus merindu, tapi ia tak kunjung membuka mata. Sudah lama, tapi rasa itu serasa baru kemarin. Aku tidak bisa melupakan genggamannya yang terakhir. Aku tidak bisa mengenyahkan senyumannya yang terakhir. Aku tidak mampu menyerahkan angan tentangnya untuk kisah cinta yang lain. Aku meyakinkan diriku bahwa ia takkan kembali. Tapi sebagian diriku masih percaya akan eksistensinya.

Aku masih terisak. Semakin sulit untukku bernafas. Seperti ikan yang dipaksa untuk bernafas tanpa air. Seperti itulah aku harus menjalani hidupku tanpa air kehidupanku. Aku tersenyum, tapi hatiku merintih. Aku tahu setiap doamu untuk kebahagiaanku. Aku sadar setiap mimpimu untuk melihatku berbalut gaun putih dan menjalin kasih abadi dengan yang lain. Tapi hingga detik ini, aku bahkan tidak mampu mempertahankan ketegaranku.

Aku tahu dia tidak meninggalkanku dengan sengaja. Aku tahu dia menangis ketika melihatku menangis. Tapi dia tak merasakan rinduku. Karena dia telah pergi, ke tempat yang tidak bisa kudatangi. Tempat yang belum boleh kukunjungi untuk melepas rinduku. Hanya aku dan rinduku yang tertinggal di dunia fana ini. Berharap seandainya bumi bisa berputar ulang dan menjanjikan kisah yang berbeda untukku dan dirinya.

Hatiku semakin tenang. Tapi air mataku masih mengalir. Kubiarkan diriku terdiam. Dan kulepaskan rinduku berteriak. Teriak sekencang-kencangnya hingga melampaui ruang dan waktu. Bahkan kalau bisa hingga terdengar di sisinya. Dan menyadarkannya bahwa aku masih merindukannya.

Aku menyeka air mataku. Menyudahi sikap kekanakanku yang tak kunjung merelakan dirinya. Aku kembali menatap rembulan dan bintang-bintang. Selamat jalan, cahayaku. Aku akan terus berusaha melangkah, bukan untuk melupakanmu tapi untuk kembali hidup. Karena selamanya, untuk selamanya, aku akan merindukanmu.

Sebuah kisah kecil mengenai kerinduan akan cinta yang tidak akan kembali. Kerinduan untuk mereka yang telah pergi selamanya.

Depok, 24 Oktober 2013

Senin, 21 Oktober 2013

Dunia Jendela (pt. 1)



Aku terduduk di kursi kesayanganku. Sebuah kursi goyang kecil yang kuletakkan tepat di samping jendela kamarku. Aku senang berada di sana. Memandangi keindahan liku kehidupan yang terus berputar di bawah apartemenku. Berpuluh warna dunia yang berbeda terlintas dan terurai di sana. Seakan sedang menonton film blockbuster, aku senang memperhatikan setiap gerak yang tercipta. Bahkan sering kali aku bermain tebak-tebakan dengan Anne, boneka cantik yang selalu setia menemaniku.

Aku akan menebak kira-kira apa yang wanita berbaju merah itu katakan kepada pria yang terlihat berumur jauh di atasnya. “Mungkin mereka rekan kerja, Anne. Ah! Kenapa tante itu menampar om tua? Mungkin oom itu kerjanya jelek, ya, Anne,” kataku pada boneka cantik berwajah layaknya putri Belanda berambut pirang keriting yang kudandani dengan gaun ungu kembang dan mahkota mutiara.
Pernah juga aku melihat dua orang pria berjalan bersama. Mungkin mereka sahabat, simpulku. Sayangnya tebakanku meleset. Ketika mereka berada di bawah terpal biru tempat parkiran motor yang cenderung sepi di malam hari, aku melihat mereka bergandengan tangan bahkan berpelukan. Seketika aku menutup mataku dan Anne. “Kita nggak boleh lihat ini, Anne!” ujarku setengah berbisik. Seakan pria-pria kekar itu dapat mendengarku.

Jendelaku adalah dunia milikku seorang. Banyak orang mencoba memasuki dan mengintai duniaku, tapi mereka tak mampu. Tentu saja, karena jendela ini punya kode sandi. Hanya aku dan Anne yang mampu memasuki dunia gemerlapan ini. Dunia jendela, begitu aku menyebutnya.

***

Aku tidak punya teman. Aku tidak pernah bersekolah. Kata Mama, aku tidak boleh pergi keluar karena udara di luar itu jahat. Mereka senang menggerogoti paru-paruku dan menyumbat pernapasanku. Waktu kecil, aku pernah nakal dan bermain keluar. Alhasil aku tidak bisa bernapas. Kata dokter, nama penyakitnya asma. Aku mencari tahu tentang asma, dan katanya aku masih bisa bermain di luar asalkan aku membawa obat. Aku merengek pada Mama agar dibolehkan bermain keluar. Tapi kemudian Mama bilang, kuman di luar sana juga sangat banyak. Aku bisa tertular bahkan meninggal kesakitan. Aku benci sakit! Aku gak mau sakit! Jadi aku memilih diam di apartemen ini. Tempat aku, Mama, dan Bibi Sutri mengadu nasib.

Mama orang yang sibuk. Selalu bekerja ke luar kota bahkan ke luar negri. Karena rindu, waktu kecil aku suka rewel. Teriak-teriak minta ini-itu sampai merepotkan Bibi Sutri. Kalau sudah kesal, Bibi Sutri selalu bilang kalau sebentar lagi aku akan mati. Katanya kalau aku terus rewel dan nakal, aku akan masuk neraka. Bahkan adanya suatu konsep tentang neraka itupun kuketahui dari Bi Sutri. Neraka itu panas dan berisi anak-anak nakal. Aku juga gak mau masuk neraka! Karena itu aku memilih diam, dan selalu menuruti kata Bi Sutri.

Anne hadir di hidupku ketika aku berumur 10 tahun. Rasanya senang bukan main! Akhirnya aku punya teman! Aku menghabiskan seluruh waktuku bersama Anne. Tidur, makan, mandi, bahkan ketika belajar bersama guru privat. Semuanya aku lakukan bersama Anne. 4 tahun sudah kulalui bersama Anne. Aku mulai bosan. Bukan dengan Anne, tapi dengan hidupku. Aku pernah menonton film tentang seseorang yang kehilangan segalanya dan memilih untuk bunuh diri. Aku baru tahu bahwa ternyata manusia bisa membunuh dirinya sendiri. Aku terpana melihat kehebatan manusia. Mereka bahkan bisa bunuh diri!

Aku pernah bertanya kepada Mama tentang bunuh diri. Aku ingin tahu kenapa manusia ingin bunuh diri kalau pada akhirnya akan mati juga. Tapi Mama hanya marah-marah dan berkata kalau aku mulai nakal dan melarangku menonton. Aku tidak boleh lagi menonton apapun kecuali DVD yang Mama belikan. Aku semakin bosan. Rasanya ada yang kurang. Hampa mulai menghampiri tiap detik kehidupanku. Dan ketika itulah, tidak sengaja aku mendapat suatu hal yang baru.

Suatu sore, ketika langit memancarkan terang jingganya, aku seakan tertarik oleh magnet besar bernama kagum. Aku menarik kursi kecil dan duduk menikmati setiap momennya bersama Anne. Indah sekali melihat cahaya jingga itu perlahan berubah menjadi kegelapan. Aku tidak mempercayai keberadaan bintang seperti yang tertulis di buku-buku bergambar. Langit di kotaku tidak punya bintang. Kata Bibi Sutri, karena orang di sini jahat-jahat, sehingga bintang kabur dan tidak mau kembali lagi.

Karena itu ketika malam menghampiri, aku menyudahi decak kagumku dan bersiap pergi. Ketika itulah, dunia baru itu datang. Awalnya karena penasaran. Penasaran apa yang segerombolan orang berseragam putih abu-abu itu lakukan di bawah sana. Aku mulai mengamati dan kian menikmati setiap perubahan yang terjadi. “Anne, lihat deh! Mereka lucu ya! Ternyata nonton di sini seru juga!” kataku dengan semangat sambil memperlihatkan Anne dunia baruku. Dunia jendela, milik kami berdua.

Minggu, 20 Oktober 2013

Perpisahan Hujan Daun



Pagi itu senyap. Angin bertiup sepoi-sepoi. Dedaunan yang bergandeng mesra dengan sang dahan, mulai rontok satu per satu. Hujan daun, warnanya hijau, lembut dan tenang. Ketenangan yang menjadi latar dari pertemuan dua insan manusia yang masih mencari jati dirinya. Jati diri mereka yang lama hilang, ditelan indah-perihnya sebuah romansa. Lelaki dan perempuan ini bertemu bukan dalam rangka selebrasi, ataupun hura-hura. Mereka hanya ingin duduk, mengutarakan apa yang harus diungkapkan. Pertemuan ini bukan juga sebuah kesengajaan. Hanya sebuah kebetulan rumit yang diatur putaran nasib.

Lelaki itu mulai ragu. Kakinya bergoyang gelisah. Matanya berkeliaran, mencoba mencari pengalihan. Jemarinya mulai bermain, permainan apa saja selama itu bisa memusatkan konsentrasi. Pikirannya berusaha menarik magnet hatinya agar tidak bergerak perlahan ke kutubnya yang kini berjarak terlalu dekat dengannya.

Wanita itu duduk di sana. Rapi, manis, gugup. Wajahnya tak berekspresi, tetapi hatinya sudah berteriak. Bahkan membludak. Ia berusaha mengontrol setiap sel tubuhnya agar segala kontraksi di masa depan dapat terhindar. Kini, seluruh atmosfer yang ada mulai memanas.

Lelaki itu tidak tahan lagi. Ada begitu banyak pertanyaan dan pernyataan yang ingin dia keluarkan. Tapi hatinya masih mencari jawaban, apakah ini waktu yang tepat. Tidak lama, hanya beberapa detik, mulutnya tak sanggup lagi terkatup dan membisu.

“Kamu apa kabar?”

“Oh...baik...,” terlalu kaku untuk disebut percakapan. Tetapi detik itu bagai kunci yang melepas segel-segel penutup kenangan. Basa-basi selayaknya sepasang manusia yang tak pernah bercakap selama lebih dari 600 hari itu terasa pahit, asam, dan kering.

“Kita...sampai kapan mau gini?” perempuan itu memberanikan diri untuk sedikit menanyakan pertanyaan yang kerap diteriakkannya di kala sepi. Lelaki itu tersenyum tipis. Tipis sekali.

“Bukannya kamu maunya kayak gini? Kamu kan yang dari dulu suka mancing,” basa-basi dan ramah-tamah perlahan sirna. Baik lelaki maupun perempuan itu mulai mengungkapkan isi hatinya.

“Aku gak pernah bilang aku mau kayak gini. Aku tahu, dulu aku salah besar. Aku minta maaf karena gak bisa mengontrol diri aku sendiri. Aku minta maaf karena gak bisa kendalikan emosiku dan menjaga mulutku. Tapi sedikitpun, bahkan dalam amarahku pun, aku gak pernah menginginkan kita seperti ini,”

“Hahaha. Kalau gak mau, kamu gak akan kayak gitu. Aku berusaha menjaga perasaan kamu, berusaha menjaga hubungan kita. Sedangkan kamu, kerjanya cuma mencari kesalahan dan bertindak layaknya seorang korban. Kamu kira aku sebahagia itu hubungan kita berakhir? Kamu kira cuma kamu korban di sini?”

Amarah itu tak lagi terbendung. Suara lelaki itu semakin meninggi. Perempuan itu terdiam sejenak. Dia tidak pernah menyangka, apalagi mendengar, lelaki yang pernah menjadi sosok terbaiknya akan mampu berbicara seperti itu. Tapi dia tidak selamanya diam, karena ia tahu, ada ganjalan di masing-masing mereka yang memaksa untuk terkuak.

“Aku tahu, aku salah. Dan aku benar-benar minta maaf. Aku tahu kita tidak bahagia dengan segala keputusan yang memang harus diambil. Tapi apa kamu tahu, aku tidak pernah siap untuk setiap detiknya. Apa kamu ingat, kamu yang cukup kuat untuk pergi meninggalkanku duluan karena memang itu yang terbaik untuk aku dan studiku. Tapi apa kamu tahu, bahkan ketika aku berkata aku sanggup untuk perpisahan kita, hatiku tak pernah siap dan bahkan tubuhku pun menolak? Aku berjuang melewati tiap detik untuk berhenti menikmati kehadiran sosokmu di pikiranku. Aku terus dan terus dan terus memperingatkan diriku bahwa kamu bukan lagi milikku dan aku tidak punya keterlibatan apapun lagi dalam hidupmu...”

“Tapi kamu sanggup tuh untuk selalu mencari kesalahanku, bahkan marah-marah tanpa pernah ada alasan yang jelas,” potong lelaki itu. Perempuan itu terdiam, menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan.

“Aku gak tahu dengan kamu, tapi aku gak siap. Dalam hitungan detik aku harus siap menerima segala perubahan yang gak pernah aku bayangkan sebelumnya. Kamu yang selalu mengenaliku di mana pun aku berada, kini mulai kucing-kucingan menjauhiku. Kamu yang biasanya balas chat aku cepat dan hangat, berubah menjadi seorang robot yang hanya tahu kata ya, tidak, dan ok. Kamu yang gak pernah gak menyapaku tiap kita bertemu, tiba-tiba berubah menjadi seorang stranger yang memandangku sama dengan milyaran manusia lain yang tak pernah menjabat tanganmu untuk berkenalan. Sekejap, hanya sekejap saja, jati diriku serasa dipertanyakan. Eksistensiku seakan dipertimbangkan. Dan aku harus berusaha bersabar setiap melihat senyumanmu yang dulu untukku kini tersebar di seluruh ruangan. Bukankah wajar jika cemburuku meluap dan emosiku membludak. Aku selalu berusaha bijaksana. Tapi sayang, dahulu, aku belum sedewasa itu...”

Perempuan itu kembali terdiam. Perlahan-lahan ia mengatur kembali nafasnya yang tersendat oleh untaian kata. Lelaki itu tertawa sinis. Tak perlu isyarat untuk tahu bahwa yang di pikirannya hanya ada: ‘aku tak percaya’ atau ‘kamu kira aku tak seperti itu?’. Perempuan itu tertunduk, tidak berani memecah keheningan yang terlalu mencekam. Tiba-tiba lelaki itu berdiri, perlahan tapi pasti.

“Terserah kamu deh. Aku gak ikutan,”

Sebuah kalimat dan lelaki itu melangkahkan kaki. Meninggalkan setiap kenangan, terduduk di bangku besi halte yang dingin. Lelaki itu tahu, tak ada satu kata lagi pun dari bibirnya yang dapat melawan serangkaian kata-kata gadis itu. Karena itu dia memilih diam, karena baginya diam adalah suatu kebenaran yang mutlak.

Perempuan itu tidak lagi berkata-kata. Yang sanggup ia lakukan kini hanya menahan tangis dan berharap andai waktu dapat diputar. Ia hanya mampu menahan diri dari berbagai tindakan bodoh lain yang mampu menggoyah pendiriannya dan memberikan luka pada batinnya.

Lelaki itu terus melangkah. Menjauh dari halte bertumpukkan dedaunan. Bahkan ketika dia berusaha mencerna bahwa ia hanya belum mampu menerima keberadaan perempuan itu dalam wujud yang berbeda, ia terus melangkah, melewati hujan daun yang masih berlanjut hingga ke ujung jalan.
 
Pagi itu senyap. Angin bertiup sepoi-sepoi. Dedaunan yang bergandeng mesra dengan sang dahan, terus rontok satu per satu. Hujan daun, warnanya hijau, lembut dan tenang. Ketenangan yang menjadi latar dari perpisahan dua insan manusia yang masih mencari jati dirinya.

Pemecah Keheningan



Hari semakin gelap. Jam menunjukkan pukul 8 malam. Waktunya pulang, setelah seharian mengisi hari dengan berbagai kesibukan. Dengan lunglai perempuan ini menyusuri jalan menuju gerbang belakang kampus. Melewati kantin, kemudian terus hingga bertemu sebuah lapangan basket, yang kerap menjadi pusat olahraga anak-anak kampus. Latihan rutin masih berlangsung. Decitan sepatu, pantulan bola, dan teriakan memecah kesunyian malam dan mengisi keheningan dengan semangat. Ramai memang, tapi tidak cukup meriah untuk mengundang rasa ingin tahu dan membuat perempuan ini berpaling. Ia terus melangkah hingga tiba di ujung lapangan. Hanya sekilas lirikan tapi ia langsung menyadarinya, ada yang menarik di sana. Perempuan itu kini hanya dipisahkan oleh pagar pembatas setinggi 2,5 meter dengan para pemain yang sibuk melempar bola kesana-kemari.

Perempuan itu menghentikan langkahnya dan mulai menikmati gerakan demi gerakan yang dikerjakan para lelaki berbadan besar dengan bola yang terlihat mini di tangan mereka. Sosok itu sedang mengenakan seragam merah, entah tim kesayangannya, entah tim asalnya, perempuan itu tidak mengerti. Yang ia pahami hanya, lelaki itu kini terlihat besar, gendut, seperti raksasa. Satu per satu pria-pria besar itu bergilir melempar bola. Ada yang unik dari gerakan mereka. Setiap mereka akan bergantian maju, membuat gerakan aneh, kemudian meyilangkan tangan mereka di dada, dan seketika menerima operan bola dari rekannya. Mereka ngapain? Kok kayak salam jomblo ala Andovi da Lopez yang beredar di YouTube. Begitu yang mampu dipahami perempuan amatir itu. Bukan atlet, bukan pula penikmati basket. Ia hanya seorang perempuan yang mengamati sosok yang begitu serius mengejar bola namun terkadang tersenyum melihat tingkah kawannya.

Sosok itu tidak pernah menyadari kehadiran perempuan itu. Tapi tak menjadi masalah baginya. Ia juga tidak ingin menjadi bagian dari perhatian sosok itu. Perempuan belia itu hanya ingin terhanyut, hanya sesekali, itupun kalau beruntung, dalam sebuah atau dua buah momen. Momen yang cukup manis untuk disaksikan, tapi tak cukup berarti untuk dijadikan kenangan yang tersegel, terkunci, dan terpatri dalam benaknya.

Pebasket itu masih berputar dan saling melempar. Perempuan itu masih terdiam. Tapi dunia terus berputar dan waktu tak berhenti berdetak. Jam menunjukkan pukul 8.10 malam. Sudah 10 menit ia terdiam. Waktunya pulang. Perempuan itu melepas pandangan terakhir ke arah lapangan dan mulai berpaling, berbalik arah dan berjalan pulang. Pulang ke ruangan 3 x 4 meter persegi yang disebut kos. Pulang ke kamar yang cukup hangat untuk dinikmati bersama tumpukan tugas. Oh iya, tugas! Perempuan itu mempercepat langkah. Ia menatap lurus ke depan, tidak sekalipun menoleh ke belakang karena ia tahu, sedikit percuma, bukan?

Perempuan itu terus melangkah. Melangkah. Dan berbisik dalam hati, selamat malam, pria-pria pebasket. Selamat malam, sosok berbaju merah. Selamat malam, para pemecah keheningan.