Senin, 18 November 2013

Hanya 2%



Wanita itu kembali menatap layar handphone-nya. Tak kuasa menahan senyum, ia menikmati setiap pesona yang ditampilkan layar bercahaya itu. Entah apa yang dipikirannya, tapi ia bahagia. Walau hanya dengan memandangi sebuah gambar semu ciptaan manusia, ia sudah cukup puas.

“Ciyee! Foto dia mulu, Han,” goda Raras, teman sepermainannya.

“Dia...cakep banget!” Hana memuji. Mungkin bukan sekedar pujian, tapi kata hati. Kata hati seorang wanita muda yang jatuh cinta kepada sesosok pria, yang mungkin tidak pernah menyadari keberadaannya.

Mereka kemudian berjalan, melangkah pulang. Hingga di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan seorang lelaki berperawakan tinggi, kurus, dan klimis. Begitu rapi, namun macho di saat bersamaan. Raras menyadari bahwa ini sebuah kesempatan bagi Hana untuk sekali saja menyapa dan menunjukkan eksistensinya.

“Cepat, Han! Kapan lagi?!”

“Gak mau, ah!”

“Hana! Itu dia bentar lagi lewat. Buru sapa!”

Tapi Hana hanya diam, tak berkutik. Dan kesempatan itu hilang, terabaikan begitu saja. Lelaki itu melewati mereka. Melangkah pasti, penuh percaya diri. Parfumnya tercium jelas. Aroma yang khas. Hana tersipu malu, menunduk, dan tersenyum puas. Sebuah kepuasan yang mengecewakan. Cukup sekedar melihat, cukup sekedar bertemu. Tidaklah penting adanya keberadaan nyata antara mereka berdua. Mungkin hal itu sempat terbersit di benak Hana. Mungkin sekali, atau bahkan lima kali.

Perjalanan mereka selanjutnya dipenuhi ceramah panjang dari Raras. Tentang bagaimana sebuah sapaan sangat berarti, hingga penciptaan langkah-langkah pergerakan untuk menumbuhkan rasa di antara mereka. Hana hanya tertawa. Ia bergembira untuk setiap rencana. Ia bersyukur untuk setiap kisah. Tapi di sudut hatinya, dia hanya ingin diam. Memandangi sebuah sosok yang memerangkapnya tiap waktu. Seorang lelaki yang tidak mengizinkan adanya peralihan perhatian. Walau tetap saja, Hana selalu berharap, suatu saat nanti lelaki itu akan sungguh-sungguh hadir dan menghiasi hari-harinya.

***

Bukan mahasiswa jika mereka tidak dipenuhi dengan setumpuk tugas yang tidak jelas kemana ujungnya. Ada baiknya memang, terutama bagi Hana, untuk melupakan sejenak setiap mimpi dan harapan akan sesosok manusia. Seminggu telah berlalu semenjak Hana berbicara dengan lelaki impiannya. Sebuah momen terindah dalam masa perkuliahannya. Sesaat memang, namun senyuman terus bergejolak lebar di bibirnya. Tawa menghiasi harinya. Walau pun telah seminggu.

“Lo tuh mesti nyapa. Ngomong, apa kek. Kalau gini terus ya dia juga gak bakalan notice-lah,” saran mungil dari Dinda membuka sesi pembicaraan ala perempuan mandiri tanpa pasangan.

“Ya kalau gue tahu caranya, kalau gue bisa, gue juga mau. Tapi gak segampang itu, guys,”

“Emangnya mau sampai kapan sih kayak gini?” komentar Silvi.

“Gak apa-apa kok. Mencintai diam-diam ada enaknya kok ....,” jawab Hana.

Ya, ia percaya dalam hatinya bahwa keadaan ini sudah cukup baik. Ia bisa bertahan dan menikmati tiap untaian kisah cinta diam-diam ini. Tapi Hana tak memungkiri, bahwa di balik tembok pertahanannya, ia ingin merasakan kehangatan. Sekedar sapaan, sekedar menyebut namanya. Tetapi wanita ini tidak berani meminta banyak. Tidak ingin kecewa, katanya.

Hari demi hari dilalui tanpa perubahan yang berarti. Hana tetap diam, dan lelaki itu tetap berjalan. Melangkah dengan jaket hitam dan parfum wanginya. Sesekali ia memainkan alat musik kebanggaannya. Menyenandungkan lagu-lagu cinta bersama gitarnya. Setiap fase gerakan yang tertangkap oleh retina Hana bagaikan bunyi-bunyi nafiri. Indah, mengalun, dan penuh kebahagiaan. Walau kebahagiaan itu hanya sepihak dan penuh celah, Hana selalu berhasil menutupinya.

Tak terasa waktu berputar cepat. Hana semakin dekat dengan toga-nya. Berbagai cerita hilir-mudik berganti. Meski demikian, ada satu yang pada akhirnya tidak berubah. Bagaikan sebuah ketetapan, bagaikan sebuah monumen nasional, ada satu kotak kenangan dalam hatinya yang tak berpindah tempat apalagi berganti. Tetap di sana, bagaikan bumbu penyedap bagi kehidupannya.

Lelaki ini berubah. Tubuhnya semakin besar. Musiknya semakin indah. Pakaiannya semakin dewasa. Senyumnya semakin bijaksana. Tapi dia masih sama bagi Hana. Bukan lelaki A atau B, tetapi dia tetaplah dia, pria yang mengisi dunia mimpi dan nyatanya. Bahkan hingga toga kini berada di tangannya. Menanti untuk dikenakan bersama kebaya cantik dan tatanan rambut terindah.

“Han, bentar lagi kita berpisah sama kampus ini. Dan lo masih aja di posisi yang sama. Maju nggak, mundur juga nggak. Yah, maju sih. Lo makin suka sama dia, tergila-gila. Tapi lo gak ngapa-ngapain untuk itu,” ungkap Dinda. Hana terdiam sejenak. Bukan untuk berpikir ‘mengapa’, tapi sekedar mengambil waktu untuk mencari kata yang tepat. Setepat perasaannya yang tak dapat dihindari.

“Susah, Din. Walaupun dia gak dekat sama gue, gak notice gue bahkan, gue gak bisa lupa. Dia memang punya banyak kekurangan. SMS gue juga gak dibalas, haha. Tapi gak segampang itu untuk tiba-tiba melupakan dia. Karena semakin hari, gue semakin menerima dia. Perubahannya cuma menjadi keindahan buat gue,” Hana tersenyum. Dia selalu terlihat setingkat lebih cantik ketika memikirkan lelaki ini. Kebahagiaan terpancar murni dalam senyumannya.

“Ketidaksempurnaannya itu yang lo butuhin buat melengkapi ketidaksempurnaan lo. Walau dia gak sempurna, tapi lo gak mampu kan mencari orang yang se-tidak-sempurna dia?” kata Raras sambil memegang bahu Hana. Hana tersenyum.

Waktu wisuda pun tiba. Toga dimana-mana. Bunga berserakan. Tawa terpecah dan senyum mengudara. Hana di sana, bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Seakan robot otomatis, tiap waktunya ia mencari dan mencari keberadaan sosok lelakinya. Lelaki itu juga berhiaskan toga siang ini. Hana akhirnya menemukan sosoknya. Terpencil di tengah kerumunan lelaki-lelaki berbadan besar yang bersorak girang dan tertawa keras. Hana tersenyum. Hanya begitu saja pun, ia sudah puas.

“Han! Ini momen terakhir. Sana, minta foto sama dia!” Silvi mendorong Hana sambil membawa kamera. Ya, tak apa-lah, ini yang terakhir, pikir Hana.

“Sorry, Mike, boleh foto bareng gak?” pinta Hana. Mungkin nasib, mungkin karena euforia, tanpa tanya Mike mengambil posisi. Kamera dipetik, dan mereka tersenyum puas.

Kebahagiaan berlipat ganda, mungkin. Foto dengan toga bersama lelaki impiannya selama kuliah. Seakan meraih sukses secara bersamaan untuk dua mimpi terbesar. Silvi pun turut tertawa lebar, kesenangan yang meluap.

“Gimana, Han? Udah makin maju hubungannya sekarang kan? Hahaha,”

“Iya ... udah jadi 2 %,” senyum Hana.

***

Sebuah cinta diam-diam. Sebuah kisah masa muda. Sebuah gulali kehidupan. Sebuah cinta yang bertumbuh. Sebuah perjuangan untuk bertahan. Dan sebuah langkah maju, meski hanya 2 %.




Depok, 18 November 2013

Minggu, 17 November 2013

Diam ... Tanpa Rasa

Entah siapa aku ini. Aku hampir buta. Mungkin bukan buta, hanya tak berjiwa. Karakter yang kubangun berpuluh tahun kemudian menemukan titik buntu. Seakan berada di tepi jurang dalam yang tak punya pilihan selain diam, atau tenggelam. Dan aku memilih diam. Diam tanpa rasa.

Ketika melihat burung, aku ingin terbang. Ketika melihat pohon, aku ingin berfotosintesis. Ketika melihat anjing, aku ingin menggong-gong. Ketika melihat sepeda, aku ingin berputar. Aku mengubah topengku sedemikian rupa sehingga seluruh dunia akan mengenalku, entah siapa pun ‘aku’.

Tapi walau demikian, aku memiliki satu titik itu. Satu titik dimana aku tahu apa yang kuinginkan. Hanya saja keinginan itu tidak lebih dari segumpal kehampaan. Realitas sebuah mimpi. Terlalu nyata untuk disebut khayalan, namun secara bersamaan melawan arus putaran bumi. Jadi aku kembali diam, tanpa rasa. Karena aku tahu, apa maknanya memperjuangkan sesuatu yang akan berakhir ketika sang mentari menerangi langit? Apa gunanya menangisi sebuah kisah yang takkan bertahan ketika bintang mulai lenyap? Jadi diamlah, dan tanpa rasa. Lagi.

Terkadang aku ingin membongkar pabrik tubuhku. Mengambil sebuah mesin yang bergerak dinamis yang disebut hati. Me-reset-nya menggunakan program software dan memasukkan data-data baru. File yang berisikan berbagai kebijakan-kebijakan nyata yang akan menjadikanku manusia, lagi. Tapi ternyata manusia tidak segampang mesin-mesin pabrik. Tidak ada tombol delete, apalagi reset. Jadi aku kembali ke tepi saja, dan diam terus hingga tanpa rasa.

Pernahkah kau begitu menyayangi seseorang, hingga menyayanginya pun terasa salah?

Pernahkan kau begitu merindukan seseorang, hingga memandanginya pun menjadi sebuah dosa?

Maka mungkin kau ada di sini. Di tepi jurang. Tak berkutik, bahkan menahan nafas. Karena saat ini kita hanyalah topeng. Hanya imitasi pernak-pernik kehidupan. Dan ketika kita menyadarinya, aku menyadarinya, aku hanyalah boneka tanpa rasa. Karena semua rasa terasa palsu. Sepalsu rasa sayangku. Sepalsu rasa rinduku. Sepalsu situasi yang kukarang demi membantuku bertahan. Bertahan dalam diam ... tanpa rasa.

Kamis, 14 November 2013

Kita Itu Munafik



Kita itu munafik
Kata-kata palsu
Seakan mampu, padahal berusaha menutup pilu

Kita itu munafik
Tidak lebih dari dua onggok daging yang merintih
Meminta waktu melangkah lebih cepat
Supaya rasa ini terpendam mati
Supaya raga ini selamat dari wafat

Kita itu munafik
Berlagak orang beken yang keren pada masanya
Ketika masa lalu masih membayangi
Bagai kabut di ufuk pagi

Matahari menatapku
Terlalu tajam hingga terik
Aku berpaling menjauh
Karena aku tahu aku tidak mungkin bersembunyi

Kata siapa aku hebat?
Kata siapa kamu kuat?
Apa bedanya kita dengan kisah sinetron di malam hari?
Atau dengan drama melankolis di layar tancap?

Bumiku masih tandus
Langitmu kadang berawan

Kita diam, tapi tak sunyi
Kita tak tahu, tapi menghakimi

Orang-orang berebut mengataiku
“Hatimu suka mengada-ada!”
Haruskah ku peduli?

Orang-orang berlomba menyentuhmu
Jadikan pegangan, jadikan sandaran
Beribu wanita pun tak cukup
Haruskah ku peduli?

Halaman terakhir belum tertulis
Tapi aku peduli
Outro lagu kita belum dimainkan
Tapi aku peduli

Karena aku melihat sesuatu
Sesuatu yang kusembunyikan di balik setiap senyumku
Dan kusadari sesuatu
Di balik setiap cuek-jutekmu

Mau dunia berkata apa
Semua sederhana
Kita itu munafik...


Depok, 14 November 2013